Jakarta – Kehadiran Wiratama Civil Society (CS) Sulawesi Tenggara ditandai dengan lahirnya sebuah ruang diskusi publik yang hangat dan terbuka. Melalui kegiatan “Ngopi dan Bincang Buku: Mengawal Merah Putih” yang digelar di Konoki Coffee, Kota Kendari, Rabu (4/2/2026), organisasi ini memulai kiprahnya dengan pendekatan dialog dan literasi.
Alih-alih seremoni formal, agenda perdana tersebut dikemas santai namun sarat makna. Buku diskusi dipilih sebagai media untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya gagasan, refleksi, dan keterlibatan warga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Forum ini menghadirkan peserta dari lintas latar belakang, mulai dari aktivisme pemuda, mahasiswa, politisi, hingga akademisi. Kehadiran mereka mencerminkan kebutuhan ruang bersama yang memungkinkan pertukaran ide secara setara dan inklusif di Sulawesi Tenggara.
Sebagai organisasi masyarakat sipil yang baru tumbuh di Bumi Anoa, Wiratama CS menunjukkan orientasi awalnya pada penguatan dialog publik. Diskusi yang berlangsung tidak hanya membahas isi buku, tetapi juga realitas sosial, tantangan kebangsaan, serta peran generasi muda dalam menjawabnya.
Senior Masyarakat Sipil Pegiat Sulawesi Tenggara, Drs. H. Abdul Halik, hadir memberikan refleksi tentang pentingnya keterlibatan individu dalam gerakan sosial. Ia menekankan bahwa masyarakat sipil adalah ruang demokratis yang memberi peluang bagi siapa pun untuk berkontribusi.
Menurut Halik, partisipasi dalam masyarakat sipil tidak selalu harus berada di garis depan aksi. Setiap orang dapat mengambil peran sesuai kemampuan, keahlian, dan konsistensi yang dimiliki dalam memperjuangkan kepentingan publik.
Pengalaman Panjang Halik sejak awal 1990-an dalam isu lingkungan dan pemberdayaan masyarakat menjadi contoh bahwa perubahan sosial memerlukan ketekunan dan keberanian berpikir kritis. Ia menyebut gagasan sebagai fondasi utama sebelum kerja-kerja lapangan dilakukan.
Sebagai wakil rakyat di DPRD Sulawesi Tenggara, Halik juga membuka peluang kolaborasi antara masyarakat sipil dan lembaga legislatif. Menurutnya, sinergi tersebut penting agar gagasan yang lahir dari ruang diskusi dapat bertransformasi menjadi kebijakan atau program nyata.
Dimensi intelektual kegiatan ini diperkuat melalui penyakit buku Mengawal Merah Putih karya Budi Heru Hartono. Akademisi Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, Abdul Malik, menilai buku tersebut merepresentasikan praktik nasionalisme yang berangkat dari pengalaman nyata.
Malik menjelaskan bahwa buku itu tidak berhenti pada konsep abstrak, melainkan mencerminkan dinamika birokrasi, kepemimpinan, dan pengelolaan negara dari sudut pandang praktisi. Hal ini menjadikan buku tersebut relevan bagi pembaca lintas generasi.
Lebih jauh lagi, ia menyoroti buku pesan utama yang menempatkan nasionalisme sebagai tindakan sehari-hari. Menurutnya, cinta tanah air tidak selalu hadir dalam bentuk simbolik, melainkan melalui keterlibatan aktif dalam peran sosial dan profesional masing-masing.
Diskusi yang berlangsung menunjukkan antusiasme peserta terhadap isu-isu kebangsaan yang dibahas secara kontekstual. Dialog berjalan cair, membahas kritik, refleksi, dan pengalaman pribadi para peserta.
Bagi Wiratama CS Sulawesi Tenggara, kegiatan ini menjadi penanda arah gerakan yang ingin dibangun. Literasi, diskusi, dan pertukaran gagasan diposisikan sebagai pintu masuk untuk kerja-kerja masyarakat sipil yang berkelanjutan.
Koordinator Wiratama CS Sulawesi Tenggara, Akbar Setiawan, menyebut kegiatan tersebut sebagai langkah awal membangun ekosistem gagasan di daerah. Ia menegaskan bahwa ruang diskusi akan terus dihidupkan sebagai bagian dari identitas organisasi.
Ke depan, Wiratama CS Sulawesi Tenggara berencana melakukan konsolidasi internal dan memperluas jejaring. Melalui pendekatan dialogis dan kolaboratif, organisasi ini berharap dapat berkontribusi dalam merawat semangat kebangsaan dari daerah.











