Oleh: Deni Gunawan (Direktur Wiratama Civil Society)
Pagi ini, saya memulai tahun ini dengan detak jantung dan getar pikiran yang agak gelisah. Sebuah pertanyaan sederhana, tiba-tiba muncul, “setelah rapalan doa dan berbagai harapan di penghujung 2025, benarkah kehidupan kemanusiaan kita akan lebih baik di 2026?”
Pertanyaan ini sebenarnya bukan hal baru. Kita pernah berada di titik yang sama di penghujung 2024. Doa-doa dirapal, harapan dibangun, dengan kalimat yang nyaris serupa: ingin hidup yang lebih baik.
Mereka yang kekurangan ingin bertambah cukup bahkan lebih. Mereka yang lebih ingin menguasai. Mereka yang kalah ingin menang. Semua berharap. Semua berdoa.
Namun di titik ini pula, saya merasa doa dan harapan kita kerap tersedak di tenggorokan. Seolah melambung ke langit sebagai gelembung-gelembung kosong. Bukan karena doa itu salah, melainkan karena arah doa kita. Kita berdoa hampir selalu untuk diri sendiri. Doa-doa itu saling berdesakan, bahkan saling bertabrakan.
Mereka yang kalah tahun lalu berharap bisa mengalahkan yang lain hari ini. Mereka yang kaya berharap tetap menguasai sumber-sumber kehidupan. Mereka yang berkuasa berharap kekuasaannya tetap bertahan, bahkan atas martabat manusia itu sendiri.
Kegelisahan ini semakin kuat ketika menengok ke penghujung tahun lalu. Dunia tampak porak poranda. Bumi luluh lantak. Kekejaman menguat, perang berkecamuk, seolah nyawa manusia kehilangan nilai.
Meski begitu, kita tetap sibuk merapal doa untuk diri sendiri, dan lalai—seolah penderitaan manusia lain tak pernah terhubung dengan kehidupan kita sendiri. Kita nyaris tidak melakukan apa pun, bahkan sekadar mengecam, ketika martabat manusia diperlakukan tak lebih dari benda, dan pada titik itulah kemanusiaan retak.
Memasuki 2026, ironi itu terus berulang. Kembang api menyala, pesta manusia tumpah ruah, sementara di tempat lain dentum senjata tak pernah reda. Popor menghantam tengkorak manusia, kesiapsiagaan perang dan invasi disiapkan oleh para “adikuasa”. Di saat yang sama, kita mulai kehilangan tempat tumbuh: lahan menyusut, hutan mengering, hijau berubah cokelat. Setiap negara mulai menyimpan ketahanan pangannya sendiri, bersiap menghadapi masa depan yang kian sempit.
Meski begitu, saya berharap kegelisahan ini hanya ilusi yang berdiam di kepala saya aja. Semoga doa dan harapan yang kita rapalkan benar-benar menemukan jalannya—bukan hanya menjadi permohonan individual, tetapi kesadaran bersama. Agar yang lahir bukan sekadar kemenangan satu atas yang lain, melainkan kehidupan kemanusiaan yang lebih adil. Agar manusia, pada akhirnya, benar-benar bisa hidup bahagia bersama di dunia.











