Oleh: Deni Gunawan (Direktur Wiratama Civil Society)
“Apakah kita bekerja untuk makan, atau makan agar kita bisa bekerja?”
Pertanyaan lama ini sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang tak pernah benar-benar usang. Ia mengajak kita menoleh lebih jauh ke dalam makna kerja, sebuah aktivitas yang begitu melekat dalam kehidupan manusia.
Di tengah dunia modern yang mengukur keberhasilan lewat angka dan pencapaian material, kerja kerap direduksi menjadi sekadar transaksi ekonomi. Namun di sanalah sesungguhnya gambaran eksistensial manusia berada, cara kita memahami diri sendiri dan posisi kita di dunia.
Sejak awal peradaban, manusia bekerja bukan semata-mata untuk bertahan hidup. Kerja adalah cara membangun komunitas, merawat hubungan, dan mengembangkan kemampuan diri.
Pada tingkat paling dasar, pekerjaan memang bertujuan menghasilkan gaji yang menopang kebutuhan hidup seperti makan, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan. Gaji adalah fondasi materi yang tidak bisa diabaikan.
Namun berhenti pada pemahaman itu saja membuat kita kehilangan dimensi terdalam dari makna kerja.
Secara filosofis, kerja adalah ruang aktualisasi eksistensi. Melalui kerja, apa pun yang dimaksud, seseorang menegaskan keberadaannya di dunia. Bekerja tidak berhenti pada memenuhi kebutuhan fisiologis, tetapi menyentuh wilayah psikologis yang lebih dalam.
Carl Rogers (psikolog) menjelaskan bahwa untuk menjadi pribadi yang berfungsi secara utuh, manusia memerlukan ruang-ruang aktualisasi diri, ruang yang memungkinkan dirinya berkembang, merasa bermakna, dan bertumbuh menjadi pribadi yang sehat serta bahagia.
Misalnya, dokter yang menyelamatkan nyawa, guru yang membentuk karakter, atau buruh yang membangun rumah tidak hanya menghasilkan sesuatu yang berguna bagi orang lain, tetapi juga menegaskan bahwa dirinya hadir dan berkontribusi.
Dalam proses mencipta, menyelesaikan persoalan, dan memberi manfaat, manusia tidak sekedar ada, namun ikut serta dalam membentuk dunia.
Oleh karena itu, nilai kerja tidak berhenti pada slip gaji. Ia meluas menjadi rasa berguna, rasa dibutuhkan, dan rasa memiliki tujuan. Setiap tanggung jawab yang ditunaikan, setiap persoalan yang dihadapi, dan setiap hubungan yang terbangun di tempat kerja menjadi bagian dari perjalanan manusia memahami jati dirinya.
Kerja adalah ruang pertumbuhan, bukan hanya ruang produksi. Ia adalah medium untuk menjadi lebih utuh sebagai manusia.
Dari sini kita dapat memahami mengapa kehilangan pekerjaan adalah peristiwa yang jauh lebih dari sekedar hilangnya pendapatan.
PHK atau ketiadaan kesempatan kerja bukan hanya memutus aliran ekonomi, tetapi juga memutus ruang eksistensial seseorang. Ia kehilangan tempat untuk merasa berguna, kehilangan ruang untuk berperan, dan perlahan kehilangan makna atas dirinya sendiri.
Bantuan sosial seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan yang lainnya memang dapat menopang kebutuhan dasar dan menjaga keberlangsungan hidup fisik orang yang dibantu. Namun tidak ada bantuan apa pun yang mampu menggantikan makna yang diberikan oleh kerja.
Uang dapat menjaga tubuh tetap hidup, namun kerja menjaga jiwa tetap bernilai. Tanpa kerja, manusia berisiko terasing dari dirinya sendiri, kehilangan arah, dan kehilangan alasan untuk bangun setiap pagi dengan tujuan yang jelas.
Kerja, pada akhirnya, bukan hanya soal hidup, tapi soal merasa hidup. Oleh karena itu, dalam konteks inilah penyediaan lapangan kerja yang luas dan mudah bagi masyarakat oleh negara menjadi mendesak, dan lebih penting dari sekadar membagi BLT setiap bulan.










