Kegiatan

Terbaru

Pengabdian Tanpa Pamrih dari Sang Insinyur Bangsa

Jakarta – Ir. Sutami dikenal sebagai salah satu tokoh penting pembangunan infrastruktur Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Ia menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum selama kurang lebih 14 tahun, melintasi dua era pemerintahan, yakni Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto. Di bawah kepemimpinannya, berbagai proyek strategis nasional berhasil dibangun dan menjadi fondasi kemajuan negara.

Selama masa jabatannya, Sutami terlibat langsung dalam pembangunan sejumlah infrastruktur besar yang hingga kini masih digunakan masyarakat. Proyek-proyek tersebut mencakup jembatan, bendungan, hingga gedung pemerintahan yang menjadi simbol modernisasi Indonesia. Dedikasinya di bidang teknik sipil membuat namanya dihormati di kalangan insinyur.

Beberapa karya monumental yang dikaitkan dengannya antara lain pembangunan Jembatan Semanggi di Jakarta. Selain itu, ia juga berperan dalam pembangunan Gedung MPR/DPR yang menjadi pusat kegiatan legislatif nasional. Infrastruktur tersebut tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga memiliki nilai simbolis bagi negara.

Sutami juga terlibat dalam pembangunan Bendungan Jatiluhur, salah satu bendungan terbesar di Indonesia. Bendungan ini berperan penting dalam penyediaan air irigasi, listrik, serta kebutuhan industri di Jawa Barat dan sekitarnya. Keberadaan bendungan tersebut menjadi bukti nyata kontribusinya bagi kesejahteraan rakyat.

Baca Juga  Prinsip Bukan untuk Memudahkan Hidup, tetapi Menguatkan Kita Menjalaninya

Meski mengelola proyek bernilai sangat besar, kehidupan pribadi Sutami dikenal sangat sederhana. Ia tidak memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri, berbeda dengan praktik korupsi yang kerap terjadi dalam proyek infrastruktur besar. Integritasnya menjadi teladan bagi generasi berikutnya.

Bahkan, disebutkan bahwa jika ia mengambil komisi kecil saja dari setiap proyek yang ditanganinya, ia bisa menjadi sangat kaya. Namun, ia memilih untuk tidak mengambil sepeser pun dari uang negara. Keputusan tersebut menunjukkan komitmennya terhadap pengabdian dan kejujuran.

Ketika masa pensiun tiba, Sutami mengembalikan seluruh fasilitas negara yang sebelumnya ia gunakan. Mobil dinas dikembalikan, begitu pula rumah dinas yang ditinggalkannya. Ia kemudian hidup dari uang pensiun yang relatif terbatas.

Baca Juga  Wiratama Hadir di Berbagai Daerah, Dorong Peran Aktif Pemuda untuk Perubahan Berkelanjutan

Dengan penghasilan yang tidak besar, ia mencicil sebuah rumah sederhana untuk tempat tinggal keluarganya. Kehidupannya jauh dari kemewahan, meskipun jasanya bagi negara sangat besar. Sutami akhirnya wafat pada tahun 1980 dalam keadaan yang tetap bersahaja.

Salah satu kisah yang sering dikenang terjadi saat perayaan Lebaran, ketika tamu pejabat datang ke rumah dinasnya. Saat itu hujan deras menyebabkan atap rumah bocor hingga air menetes ke ruang tamu. Dengan tenang, ia mengambil ember untuk menampung air sambil meminta maaf karena belum memiliki dana untuk memperbaiki atap.

Peristiwa tersebut membuat para tamu terdiam, menyadari bahwa seorang menteri yang mengurus proyek bernilai triliunan rupiah hidup dalam kondisi sederhana. Sutami tidak meninggalkan warisan kekayaan materi, melainkan warisan berupa infrastruktur yang digunakan rakyat serta teladan integritas. Kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada negara tidak selalu identik dengan kemewahan pribadi.