Jakarta — Gelombang doa dan harapan terus mengalir tanpa henti. Program Munajat Doa 100 Hari yang digagas Wiratama CS untuk mendoakan Bapak Heru Budi Hartono kini resmi memasuki pekan keduanya. Jauh dari kesan mereda, antusiasme para peserta justru semakin menguat dari hari ke hari, waktu seolah tak mampu meredam ketulusan hati mereka yang ingin terus mengumpulkan doa terbaik bagi sosok pemimpin yang mereka cintai.
Kegiatan yang berlangsung secara konsisten ini menarik perhatian luas dari berbagai kalangan masyarakat. Mereka datang dari latar belakang yang beragam, namun bersatu dalam satu niat yang sama: mendoakan Bapak Heru Budi Hartono dengan sepenuh hati. Suasana khidmat selalu gelisah setiap sesi munajat, dengan para peserta yang tertunduk khusyuk, tangan terangkat, dan bibir bergerak perlahan melantunkan doa-doa tulus kepada Yang Maha Kuasa.
Manajer Program Wiratama, Moch. Ja’far Shodiq, mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam atas antusiasme luar biasa dari masyarakat. “Kami tidak menyangka antusias peserta akan sebesar ini. Ini bukan sekedar program doa biasa, ini adalah wujud cinta tulus masyarakat kepada Bapak Heru Budi Hartono yang selama ini telah menjelajahi penuh untuk Jakarta,” ujar Ja’far di sela-sela kegiatan.
Salah satu pemandangan paling mengharukan yang terekam di pekan kedua ini adalah kehadiran peserta lintas generasi. Kakek dan cucu duduk berdampingan dalam satu barisan, sama-sama tertunduk dalam doa. Fenomena itulah yang menurut Ja’far menjadi pencapaian terbesar yang melampaui target awal program. Munajat ini tidak hanya menjadi ajang doa bersama, tetapi juga medium pewarisan nilai-nilai spiritual dari generasi tua hingga yang muda.
Ja’far Shodiq kerap tersentuh menyaksikan momen-momen yang terjadi di setiap sesi munajat. “Semua itu nyata dan tulus. Momen-momen itulah yang membuat kami semakin yakin bahwa program ini sudah menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar agenda rutin,” tuturnya lirih.
Wiratama menegaskan bahwa konsistensi adalah roh dari seluruh program ini. Tidak satu hari pun boleh terlewat, tidak satu sesi pun boleh dilaksanakan dengan setengah hati. Setiap munajat harus dijaga kualitas dan kekhusyukannya sebagaimana hari pertama dimulai. Prinsip itulah yang terus dipegang teguh oleh seluruh panitia dan relawan yang terlibat dalam program ini sejak awal hingga saat ini.
Menutup refleksi pekan keduanya, Moch. Ja’far Shodiq menyampaikan pesan yang tegas sekaligus menyentuh. “Kami tidak akan berhenti, tidak akan melambat, dan tidak akan kehilangan semangat. Kami berkomitmen untuk istikamah hingga hari ke-100.
Karena Bapak Heru Budi Hartono layak mendapatkan yang terbaik dari kami semua, dan doa adalah hadiah paling tulus yang bisa kami berikan,” tegasnya mantap. Pernyataan itu seolah merangkum satu jiwa besar yang menghidupi setiap langkah program Munajat Doa 100 Hari Wiratama ini.





