Kegiatan

Terbaru

Tukar Pikiran #7 Wiratama Dorong Pengembangan Pangan Berkelanjutan untuk Perkuat Ketahanan Pangan

WIRATAMA – Ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan tersedianya makanan dalam jumlah yang cukup, tetapi juga bagaimana potensi pangan dapat dikembangkan secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Gagasan tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Tukar Pikiran #7 Wiratama yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut menjadi ruang dialog untuk membahas berbagai peluang pengembangan pangan berkelanjutan sebagai bagian dari solusi dalam memperkuat ketahanan pangan, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Dalam kegiatan tersebut, Awaluddin, mahasiswa Pascasarjana Agribisnis Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, hadir sebagai pemateri. Sementara itu, Rahmat K., Koordinator Wiratama Masyarakat Sipil Wilayah Sulawesi Selatan, menjadi pemantik diskusi.

Kehadiran keduanya memberikan perspektif yang berbeda namun saling melengkapi dalam melihat persoalan pangan. Perspektif akademik dari bidang agribisnis dipadukan dengan pemantik diskusi mengenai kondisi dan tantangan masyarakat untuk mendorong peserta melihat isu ketahanan pangan secara lebih luas.

Awaluddin menekankan bahwa ketahanan pangan perlu ditempatkan dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan. Menurutnya, ketersediaan pangan harus berjalan beriringan dengan kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya secara produktif dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

Baca Juga  Tukar Pikiran #7 Wiratama: Menggali Potensi Pangan Berkelanjutan untuk Masa Depan Indonesia

“Ketahanan pangan bukan hanya bagaimana makanan tersedia, tetapi bagaimana kita mampu mengembangkan potensi pangan yang ada secara berkelanjutan sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa mengorbankan lingkungan,” ujar Awaluddin dalam diskusi tersebut.

Ia menjelaskan, potensi pangan di setiap daerah pada dasarnya dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat. Karena itu, pengembangan komoditas lokal perlu didukung dengan pengetahuan, inovasi, teknologi, serta kemampuan masyarakat dalam menciptakan nilai tambah.

Menurut Awaluddin, pendekatan agribisnis juga penting untuk memastikan sektor pangan tidak berhenti pada aktivitas produksi. Rantai pangan perlu dikembangkan mulai dari produksi, pengolahan, distribusi hingga pemasaran sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Sementara itu, Rahmat K. sebagai pemantik mengajak peserta untuk melihat persoalan ketahanan pangan dari realitas yang dihadapi masyarakat. Diskusi diarahkan untuk menggali berbagai peluang sekaligus tantangan yang muncul dalam upaya membangun kemandirian pangan di daerah.

Rahmat menilai ruang pertukaran gagasan seperti Tukar Pikiran #7 penting untuk mempertemukan berbagai perspektif. Menurutnya, persoalan pangan membutuhkan kolaborasi karena tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu kelompok atau sektor.

Baca Juga  Menanam Masa Depan Lewat Pendidikan, Kolaborasi Jadi Kunci Mencetak Generasi Berkualitas

Pembahasan juga menyoroti pentingnya optimalisasi potensi lokal. Setiap daerah memiliki karakteristik sumber daya alam, budaya, komoditas, dan kemampuan masyarakat yang berbeda sehingga strategi pengembangan pangan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

Penguatan ketahanan pangan juga membutuhkan keterlibatan masyarakat secara aktif. Masyarakat tidak cukup hanya ditempatkan sebagai konsumen, tetapi perlu didorong menjadi pelaku utama yang mampu memproduksi, mengolah, mengembangkan, dan memasarkan produk pangan secara mandiri.

Di sisi lain, keberlanjutan lingkungan menjadi aspek penting dalam pembangunan sektor pangan. Peningkatan produksi perlu dilakukan dengan tetap memperhatikan pengelolaan tanah, air, ekosistem, serta penggunaan sumber daya alam agar tidak menimbulkan persoalan ekologis di masa depan.

Diskusi tersebut juga menegaskan perlunya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, pelaku usaha, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan. Sinergi tersebut dinilai dapat mempercepat lahirnya inovasi sekaligus memperluas dampak program ketahanan pangan.

Melalui Tukar Pikiran #7, Wiratama mendorong agar gagasan mengenai pangan berkelanjutan tidak berhenti sebagai bahan diskusi. Pertukaran pemikiran diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk melahirkan inovasi, kolaborasi, dan aksi nyata dalam mengembangkan potensi pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah dan nasional.